Crayon Shinchan dianggap bukan tokoh yang pantas jadi panutan bagi anak². Pasalnya dianggap bukan hanya menggambarkan kenakalan anak² usia 5 tahun semata-mata , tapi juga sering berbicara meniru orang dewasa serta acap kali pemikiran dan perbuatannya berbau porno dan dianggap bukan hal yang wajar dilakukan oleh anak².
Dalam kata lain banyak pendewasaan ShinChan sebenarnya tidak lepas dari tingkah laku orang tua. Kalau karena hal² itu komik Shinchan atau film kartunnya dianggap sangatlah buruk, maka juga banyak buku atau tontonan lain di televisi atau lewat VCD yang juga bisa dianggap buruk dan tak cocok bagi anak² tapi toh tetap diberikan kepada mereka.

Sebagian anak² Indonesia sekarang sudah bisa dengan bebas menyantap film² penuh kekerasan atau pun film tentang mistik yang kini banyak disajikan di televisi atau lewat VCD. Atau yang paling mencemaskan adalah makin menjamurnya penyanyi cilik yang bergaya bak orang dewasa di layar televisi. Bahkan kuantitas penyajian hal² semacam ini ke dalam kehidupan anak² Indonesia bisa dikatakan sudah melampaui batas.
Setiap hari dan berkali² dalam satu hari kita bisa melihat gaya para penyanyi cilik yang beraksi seperti orang berusia 20 tahun.Anak² yang diekpos kepada tontotan semacam itu pun bisa mendapatkan pengaruh pendewasaan yang prematur, sama halnya dengan membaca komik Shinchan. Atau menonton iklan di televisi yang sering menyerempet-nyerempet dengan seksualnya. Itu pun pasti ada dampaknya pada anak².
Masalahnya Crayon Shinchan tampil dalam bentuk komik atau animasi yang langsung saja sering dianggap sebagai konsumsi anak², sehingga langsung menjadi sasaran. Artinya, kalau komik ini memang tidak boleh dibaca anak² karena pengaruh buruknya, semestinya orang tua pun konsisten juga dengan tidak membiarkan anak²nya menonton televisi atau membaca buku lain tanpa saringan.
Print this page





nakal